Tanaman pada gambar tampak seperti pohon dadap, kemungkinan dari kelompok Erythrina. Karena nama “dadap” di Indonesia dipakai untuk beberapa jenis, artikel ini memakai rujukan utama pada dadap serep dengan nama ilmiah Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr., salah satu jenis dadap yang cukup dikenal. Secara botani, tanaman ini termasuk keluarga Fabaceae atau suku polong-polongan, dan dikenal sebagai pohon tropis yang telah lama akrab dengan lingkungan pertanian dan pedesaan.
Dadap bukan hanya menarik dari bentuk daunnya yang lebar dan hijau, tetapi juga penting karena sifat tumbuhnya yang cukup kuat. Sumber botani resmi mencatat bahwa Erythrina subumbrans adalah pohon yang tersebar dari Yunnan di Tiongkok hingga Asia tropis dan Pasifik barat daya. Di Indonesia, jenis ini dikenal cukup luas dan tumbuh baik di kawasan tropis. Jadi, dadap bukan pohon langka yang asing, melainkan salah satu tanaman yang memang cocok dengan kondisi lingkungan di wilayah kita.
Dalam praktik pertanian, pohon dadap punya fungsi yang sangat nyata. Kementerian Pertanian mencatat bahwa dadap sering digunakan sebagai tanaman penaung dalam sistem budidaya, terutama pada kopi, dan juga sebagai bagian dari sistem konservasi tanah secara vegetatif. Pada budidaya lada, kelompok tanaman dadap juga dikenal sebagai tajar hidup atau penyangga tanaman. Artinya, nilai dadap tidak berhenti pada penampilan pohonnya saja, tetapi juga pada manfaatnya dalam membantu budidaya tanaman lain.
Meski bermanfaat, dadap juga bukan tanpa masalah. Publikasi pertanian menunjukkan bahwa tanaman dadap dapat mengalami gangguan hama dan penyakit, termasuk serangan pada batang. Bahkan dalam budidaya kopi, Kementerian Pertanian mencatat bahwa penggunaan dadap di beberapa perkebunan mulai berkurang karena tajuknya sulit diatur dan karena sering terserang organisme pengganggu. Ini penting dipahami supaya pembahasan tentang dadap tetap realistis: tanaman yang berguna tetap bisa punya kelemahan dalam pengelolaannya.
Dari sisi kesehatan tradisional, kelompok dadap juga mendapat perhatian resmi. Kementerian Kesehatan melalui e-Farmakope Herbal Indonesia mencantumkan Dadap Ayam Daun dan Dadap Serep Daun dalam daftar monografi, yang berarti bagian daunnya sudah masuk dalam standar rujukan bahan herbal resmi. Selain itu, kajian Kementerian Kesehatan tentang tanaman obat yang digunakan pengobat tradisional juga mencatat dadap sebagai salah satu tanaman yang dimanfaatkan. Ini menunjukkan bahwa dadap tidak hanya penting dalam pertanian, tetapi juga hadir dalam tradisi pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia.
Kalau disederhanakan untuk pembaca umum, pohon dadap adalah tanaman yang punya banyak peran: bisa menjadi pelindung, penyangga, bagian dari sistem budidaya, dan juga tercatat dalam literatur herbal resmi. Ia bukan sekadar pohon liar yang tumbuh di pinggir kebun. Justru di situlah menariknya: dadap memperlihatkan bahwa satu tanaman lokal bisa punya fungsi ekologis, pertanian, dan tradisional sekaligus. Namun seperti tanaman lain, manfaatnya tetap perlu dipahami dengan tepat berdasarkan jenisnya, karena “dadap” bukan hanya satu nama untuk satu pohon saja.
Sumber resmi/ilmiah yang dipakai:
- Kew Science – Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.
- Kementerian Kesehatan RI – e-Farmakope Herbal Indonesia, daftar monografi Dadap Ayam Daun dan Dadap Serep Daun
- Kementerian Pertanian RI – Budidaya dan Pasca Panen Kopi yang mencatat dadap serep sebagai tanaman penaung
- Kementerian Pertanian RI – Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif yang mencantumkan dadap dalam sistem wanatani dan pelindung tanaman
- Kementerian Pertanian RI – publikasi tentang penggerek batang tanaman dadap pada budidaya lada
- Kementerian Kesehatan RI – review tanaman obat yang digunakan oleh pengobat tradisional, yang mencatat kelompok dadap dalam pemanfaatan tradisional