Tanaman Berlangkas

 

Tanaman pada gambar tampak seperti berlangkas, yang dalam literatur ilmiah dikenal sebagai Polyscias fruticosa (L.) Harms. Di beberapa daerah, tanaman ini juga dikenal dengan nama lain seperti kedondong laut atau kadongdong cina. Meski belum sepopuler sayuran daun lain, berlangkas termasuk tanaman yang punya nilai ganda: dapat dimanfaatkan sebagai pangan sekaligus dikenal dalam pemanfaatan tradisional.

Secara botani, berlangkas termasuk tanaman berbentuk perdu atau pohon kecil dari famili Araliaceae. Sumber botani resmi mencatat bahwa spesies ini tumbuh di bioma tropis basah dan berasal sebagai tanaman budidaya dari kawasan Malesia bagian tengah hingga Pasifik barat daya. Bentuk daunnya majemuk dan terbelah halus, sehingga tampilannya tampak ringan, rimbun, dan cukup khas dibanding tanaman pekarangan biasa.

Di Indonesia, berlangkas tidak hanya dikenal sebagai tanaman hias. Beberapa kajian ilmiah tentang sayuran lokal mencatat bahwa Polyscias fruticosa termasuk tanaman yang dikonsumsi sebagai lalapan, terutama dalam konteks pengetahuan pangan lokal masyarakat Sunda. Penelitian lain juga menyebut tanaman ini sering dijumpai sebagai tanaman hias, meskipun daun mudanya tetap dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Ini menunjukkan bahwa berlangkas berada di wilayah menarik antara fungsi estetika dan fungsi konsumsi.

Dari sisi kandungan, berlangkas juga cukup menjanjikan. Penelitian di Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa organ vegetatif tanaman ini mengandung saponin, alkaloid, dan sterol. Ketiga kelompok senyawa tersebut terdeteksi pada akar, batang, dan daun, meskipun kadarnya berbeda-beda. Temuan ini penting karena menjelaskan mengapa berlangkas terus menarik perhatian sebagai tanaman yang berpotensi dikaji lebih jauh dalam bidang farmasi dan bahan alam.

Meski begitu, pembahasan tentang manfaat berlangkas tetap perlu dijaga agar tidak berubah menjadi klaim yang terlalu jauh. Sumber ilmiah dan etnobotani memang mencatat penggunaannya dalam konteks pangan lokal dan pengobatan tradisional, tetapi potensi tersebut tetap harus dibedakan dari bukti klinis yang benar-benar mapan. Dalam tulisan publikasi, posisi yang paling jujur adalah mengakui bahwa berlangkas memiliki nilai tradisional dan ilmiah yang menarik, tetapi masih membutuhkan penelitian yang lebih kuat untuk banyak manfaat kesehatannya.

Berlangkas adalah contoh tanaman lokal yang tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita yang cukup kaya. Ia bisa hadir sebagai penghias pekarangan, sebagai lalapan, sekaligus sebagai objek penelitian bahan alam. Di tengah perhatian yang semakin besar pada pangan lokal dan tanaman fungsional, berlangkas layak dikenal lebih luas. Bukan karena dibesar-besarkan, melainkan karena memang memiliki nilai budaya, pangan, dan ilmiah yang patut diperhitungkan.

Sumber resmi/ilmiah yang dipakai:

  • Kew Science – Polyscias fruticosa (L.) Harms
  • South African Journal of Botany – kajian sayuran lokal yang mencatat Polyscias fruticosa sebagai salah satu tanaman yang dikonsumsi sebagai lalapan oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat
  • Repository UGM – Kandungan Saponin, Alkaloid dan Sterol pada Organ Vegetatif Polyscias fruticosa (L.) Harms secara Histokimiawi dan Spektrofotometri
  • Biocaster: Jurnal Kajian Biologi – penelitian keanekaragaman sayur lokal yang mencatat Polyscias fruticosa sebagai tanaman yang kerap dikenal juga sebagai tanaman hias

Baca juga :
Juara tujuannya, Amanah ilmunya, Gigih perjuangannya, Optimis hasilnya (JAGO)

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan kata-kata yang baik.😁