Tanaman Daun Awar-Awar

 

Tanaman pada gambar tampak seperti awar-awar, dengan nama ilmiah Ficus septica Burm.f. Dalam data botani Kew, nama ini tercatat sebagai nama yang diterima, termasuk ke dalam famili Moraceae. Kew juga menjelaskan bahwa spesies ini merupakan pohon yang tumbuh terutama di bioma tropis basah, dengan sebaran alami dari Nansei-shotō hingga kawasan Malesia dan Vanuatu. Di Indonesia, sebarannya juga tercatat mencakup wilayah seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Lesser Sunda, dan Papua. 

Awar-awar bukan tanaman yang asing di lingkungan tropis. Penelitian BRIN pada vegetasi riparian Sungai Banjaran menunjukkan bahwa Ficus septica umum ditemukan di seluruh lokasi penelitian, dapat tumbuh cepat di area yang terganggu, dan sanggup hidup pada berbagai habitat seperti tanah lembap, tanah kering, hingga sela-sela batu. Artinya, awar-awar termasuk tanaman yang tangguh dan adaptif. Jadi, meskipun terlihat sederhana, tanaman ini sebenarnya punya kemampuan bertahan yang cukup kuat di lingkungan yang berubah-ubah. 

Dalam konteks pengetahuan tradisional Indonesia, awar-awar juga bukan tanaman pinggiran. Laporan Nasional RISTOJA 2012 dari Kementerian Kesehatan mencatat Ficus septica sebanyak 71 informasi, yang menunjukkan bahwa tanaman ini cukup sering muncul dalam inventaris tumbuhan obat tradisional. Pada dokumen RISTOJA 2017, nama spesies ini juga kembali tercatat dalam pendataan tumbuhan obat di berbagai wilayah. Ini berarti awar-awar memang sudah lama dikenal dalam praktik pengobatan berbasis kearifan lokal, bukan baru muncul karena tren herbal modern. 

Dari sisi pemanfaatan tradisional, artikel BRIN tentang inventarisasi tumbuhan berkhasiat obat mencatat bahwa daun awar-awar digunakan untuk bisul dan kudis, akar dipakai untuk kasus seperti gigitan ular berbisa dan keracunan ikan, sedangkan getahnya digunakan untuk bengkak-bengkak. Sumber itu juga mencatat kaitannya dengan keluhan sesak napas. Namun, bagian ini perlu dibaca dengan jernih: catatan tersebut menunjukkan pemakaian tradisional masyarakat, bukan otomatis bukti bahwa semua manfaat itu sudah terbukti kuat secara klinis. 

Dari sisi penelitian, awar-awar memang cukup menarik. Dalam repositori Kementerian Pertanian, ekstrak daun awar-awar diteliti untuk penyembuhan luka pada ternak sapi. Hasil penelitian itu menunjukkan adanya kemampuan epitelisasi pada luka, dan konsentrasi 50% dinilai memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding perlakuan lain yang diuji, walaupun perbedaannya tidak signifikan. Penelitian yang sama juga menyebut ekstrak daun awar-awar mengandung senyawa seperti terpenoid, alkaloid, flavonoid, dan fenol, yang sering menjadi alasan tanaman ini terus diteliti lebih lanjut. Tetap penting digarisbawahi: ini adalah penelitian pada hewan, jadi tidak boleh langsung diubah menjadi klaim berlebihan untuk manusia. 

Kalau disederhanakan untuk pembaca umum, awar-awar adalah tanaman lokal yang punya tiga nilai sekaligus: nilai ekologis, nilai tradisional, dan nilai ilmiah. Ia mampu tumbuh di berbagai kondisi, dikenal dalam pengobatan masyarakat, dan terus menjadi objek penelitian. Justru itu yang membuat awar-awar layak dikenal lebih luas. Bukan karena dibungkus mitos berlebihan, tetapi karena memang ada jejak pengetahuan lokal dan data ilmiah yang membuat tanaman ini menarik untuk dipelajari secara lebih serius dan lebih jujur.

Sumber resmi/ilmiah yang dipakai:

  • Kew Science – Plants of the World Online, Ficus septica Burm.f. (powo.science.kew.org)
  • Kementerian Kesehatan RI, Laporan Nasional RISTOJA 2012. (repository.badankebijakan.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan RI, Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat Berbasis Komunitas di Indonesia. (repository.badankebijakan.kemkes.go.id)
  • BRIN, Inventarisasi Tumbuhan Berkhasiat Obat. (karya.brin.go.id)
  • BRIN, Buletin Kebun Raya tentang vegetasi riparian Sungai Banjaran. (ejournal.brin.go.id)
  • Kementerian Pertanian RI, Penyembuhan Luka pada Ternak Sapi dengan Ekstrak Daun Awar-Awar. (repository.pertanian.go.id)

Baca juga :
Juara tujuannya, Amanah ilmunya, Gigih perjuangannya, Optimis hasilnya (JAGO)

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan kata-kata yang baik.😁