Tanaman pada gambar tampak seperti daun suji, yaitu tanaman yang dikenal luas sebagai sumber warna hijau alami pada makanan. Dalam kajian taksonomi modern, nama ilmiah yang diterima adalah Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb., sedangkan dalam banyak literatur Indonesia nama lamanya masih sering ditulis sebagai Pleomele angustifolia. Jadi, kalau Anda menemukan dua nama itu, jangan bingung: konteksnya tetap mengarah pada tanaman suji yang sama.
Secara bentuk, daun suji mudah dikenali dari daunnya yang panjang, sempit, hijau tua, dan berkumpul rapat di ujung batang. Data resmi dari NParks menjelaskan bahwa tanaman ini termasuk semak menahun, dengan daun berbentuk lanset, duduk langsung pada batang, dan tersusun rapat di ujung percabangan. Karena tampilannya rapi dan daunnya dekoratif, suji juga cocok dipandang sebagai tanaman hias, bukan cuma tanaman dapur.
Hal yang paling membuat daun suji terkenal adalah fungsinya sebagai pewarna hijau alami. Publikasi Kementerian Pertanian menyebut daun suji sebagai salah satu bahan pewarna alami untuk menghasilkan warna hijau pada makanan. Sejalan dengan itu, kajian IPB menegaskan bahwa klorofil daun suji sudah lama digunakan sebagai pewarna untuk aplikasi pangan dan nonpangan. Jadi, reputasi daun suji memang bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga punya dasar ilmiah yang cukup jelas.
Dalam praktik sehari-hari, daun suji sangat dekat dengan berbagai olahan pangan tradisional. Dokumen teknis Kementerian Pertanian mencontohkan penggunaan perasan daun suji sebagai pewarna alami pada aneka produk seperti kue lapis, cendol, dan olahan lain. Bahkan, penelitian yang dimuat dalam repositori Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa ekstrak daun suji juga telah diuji pada pembuatan sohun pati aren–kentang hitam, dan dalam penelitian itu penambahan ekstrak daun suji membantu memperbaiki penampakan warna produk. Artinya, daun suji memang punya fungsi nyata dalam pengolahan pangan, bukan sekadar “biar hijau doang.”
Dari sisi ilmiah, daun suji menarik karena kandungan klorofilnya. Kajian IPB menjelaskan bahwa daun suji punya potensi kuat sebagai pewarna hijau alami, tetapi klorofilnya mudah terdegradasi oleh faktor enzimatis dan lingkungan, sehingga pengolahan dan penyimpanannya perlu diperhatikan. Penelitian IPB lain juga melaporkan bahwa ekstrak daun suji menunjukkan aktivitas antioksidan pada uji hewan, dengan beberapa penanda antioksidan meningkat pada tikus yang diberi ekstrak tersebut. Tetap perlu dibaca dengan kepala dingin: hasil pada hewan itu menarik, tetapi belum otomatis berarti manfaatnya sama kuat pada manusia dalam penggunaan sehari-hari.
Kalau disederhanakan untuk pembaca umum, daun suji adalah tanaman yang sederhana tetapi manfaatnya luas. Ia indah sebagai tanaman pekarangan, berguna sebagai pewarna alami, dan menarik untuk terus diteliti dari sisi pangan maupun kesehatan. Kementerian Kesehatan juga memasukkan Dracaena/Pleomele angustifolia dalam pendataan RISTOJA, yang menunjukkan tanaman ini memang tercatat dalam khazanah tumbuhan Indonesia. Jadi, daun suji layak dikenal bukan hanya karena sering diperas untuk bikin makanan jadi hijau, tetapi juga karena ia menunjukkan bahwa tanaman lokal bisa punya nilai budaya dan ilmiah sekaligus.
Sumber resmi/ilmiah yang dipakai:
- Kew Science, identitas taksonomi Dracaena angustifolia dan sinonim Pleomele angustifolia.
- NParks, deskripsi morfologi dan karakter tanaman Dracaena angustifolia.
- Kementerian Pertanian RI, Pekarangan untuk Diversifikasi Pangan yang menyebut daun suji sebagai pewarna hijau alami.
- Kementerian Pertanian RI, panduan olahan pangan yang menggunakan perasan daun suji sebagai pewarna alami.
- Kementerian Pertanian RI, penelitian tentang penambahan ekstrak daun suji pada produk sohun.
- IPB University, Klorofil Daun Suji: Potensi dan Tantangan Pengembangan Pewarna Hijau Alami.
- IPB University, Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Suji.
- Kementerian Kesehatan RI, Laporan Nasional RISTOJA 2012 yang mencantumkan Pleomele/Dracaena angustifolia.