Dalam repositori Kementerian Kesehatan, Som Jawa dicatat sebagai Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn., dan disebut juga dengan nama lokal ginseng. Laporan penelitian Kemenkes juga menjelaskan bahwa di Indonesia som jawa dan kolesom dikenal sebagai ginseng jawa, karena dalam pemanfaatan tradisional keduanya dipandang mirip dengan ginseng yang lebih populer di luar negeri.
Secara bentuk, som jawa termasuk tanaman herba menahun yang tumbuh tegak seperti semak kecil. Data resmi dari NParks mencatat tanaman ini dapat tumbuh hingga sekitar 1,5 meter, memiliki daun berbentuk elips sampai membulat telur terbalik, batang yang kadang kemerahan, serta bunga kecil berwarna merah muda atau merah yang tersusun dalam rangkaian bercabang. Jadi, walaupun orang sering fokus pada sebutan “ginseng”, secara tampilan tanaman ini justru lebih menyerupai tanaman pekarangan yang sederhana dan tidak terlalu mencolok.
Dalam pengetahuan tradisional, som jawa sudah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia. Kajian Kementerian Kesehatan mencatat pemanfaatannya oleh masyarakat Sunda Priangan, Cirebon, Osing, dan Banten, dengan bagian yang digunakan meliputi daun, umbi, rimpang, dan akar. Laporan penelitian Kemenkes juga menyebut tanaman ini diramu dalam berbagai sediaan tradisional. Artinya, som jawa bukan tanaman yang tiba-tiba viral karena tren herbal, tetapi memang punya jejak penggunaan yang cukup panjang di masyarakat.
Menariknya, tanaman ini tidak hanya bernilai sebagai tanaman obat tradisional. NParks mencatat Talinum paniculatum juga memiliki pemanfaatan sebagai pangan dan tanaman hias. Artikel resmi mereka menjelaskan bahwa daun mudanya dapat dimakan dan memiliki tekstur agak berlendir lembut, sedangkan bunganya yang kecil berwarna cerah membuatnya cocok ditanam sebagai penghias kebun atau pot. Jadi, som jawa itu fleksibel: bisa dipandang sebagai tanaman pekarangan, tanaman konsumsi, sekaligus tanaman yang punya nilai estetika.
Dari sisi budidaya, som jawa tergolong cukup ramah untuk ditanam, tetapi tetap tidak bisa asal hidup saja. NParks menyebut tanaman ini tumbuh baik di tempat terbuka dengan sinar matahari penuh, membutuhkan tanah yang subur dan berdrainase baik, serta cukup tahan terhadap kondisi agak kering. Sementara itu, penelitian dari repositori Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa bahan organik membantu memperbaiki kondisi tanah sehingga hasil umbinya bisa lebih baik. Jadi, logikanya sederhana: kalau tanahnya sehat dan pengelolaannya rapi, peluang pertumbuhan tanaman ini juga lebih bagus.
Kalau disederhanakan untuk pembaca umum, ginseng jawa atau som jawa adalah tanaman lokal yang menarik karena berada di titik temu antara tradisi, pangan, dan budidaya. Ia dikenal dalam pemanfaatan herbal, dapat dimakan pada bagian tertentu, dan cukup cocok dijadikan tanaman pekarangan. Namun, bagian pentingnya adalah ini: tanaman ini memang punya nilai, tetapi klaim manfaat kesehatannya tetap harus dibaca secara proporsional, sesuai sumber resmi dan penelitian yang ada, bukan langsung dianggap setara dengan semua klaim besar tentang ginseng yang sering beredar di internet.
Sumber resmi/ilmiah yang dipakai:
- Kementerian Kesehatan RI, Laporan Penelitian Khasiat dan Keamanan Som Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) dan Kolesom
- Kementerian Kesehatan RI, Kajian Tumbuhan Obat yang Banyak Digunakan untuk Aprodisiaka oleh Beberapa Etnis Indonesia
- Kementerian Pertanian RI, Produktivitas Som Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) pada Beberapa Komposisi Bahan Organik
- NParks, Talinum paniculatum
- NParks, New Greens for your Plate